June 27, 2011

ALLAH TIDAK PERNAH BERHUTANG PADA HAMBANYA

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Ketika sekolah saya sedang melaksanakan pembangunan, ada seorang pekerja yang sangat tekun, dia datang selalu lebih awal dari jam kerja, saat istirahat dia istirahat secukupnya tidak berusaha mengulur-ulur istirahat, saat pulang dia selalu yang paling belakang untuk beres-beres peralatan dulu. Suatu hari ketika dia belum pulang saat jam kerja sudah habis saya tanya ”bapak sedang apa? Bukanya jam kerja sudah habis mengapa bapak tidak segera pulang?” jawabanya ”saya sedang mencari bonus pak”, saya terkejut seingat saya tidak ada kebijakan lembur dan bonus. Karena penasaran saya tanya lagi ”bonus apa pak?”, dia menjawab ”bonus Tuhan pak, ganjaran”.
Sejenak saya terdiam, kemudian saya teringat pada janji Allah bahwa Allah akan memberikan rejeki kepada hambaNya yang beriman dan beramal sholeh dari arah yang tidak terduga-duga. Janji adalah hutang, Allah pasti akan penuhi janjiNya karena Allah tidak pernah berhutang pada hambanya.
Dalam kehidupan yang sangat kompetitif, dengan kebutuhan gaya hidup yang sangat tinggi, pekerja dalam berbagai jenis dan tingkatanya seringkali disibukan dengan pemikiran bagai mana caranya untuk dapat menyiasati agar disibukan dengan ”tief employe”, melakukan kecurangan pekerjaan dengan untuk mendapatkan hasil yang besar atau sama dengan bekerja sedikit dan santai atau bahkan tidak bekerja. Orang yang demikian sebenarnya hanyalah menipu dirinya sendiri. Karena Allah telah mempunyai hukum alamnya.

Sebab, Proses dan Akibat satu kesatuan

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Setiap ada akibat pasti ada sebab, terjadinya pengaruh sebab ke akibat adalah proses, sedangkan akibat adalah hasil. Orang biasanya terjebak hanya pada sebab dan akibat. Seperti pada peristiwa banjir bandang di jawa timur. Orang melihat bahwa hujan lebat dan penggundulan hutan sebagai sebab, banjir bandang sebagai akibat. Padahal proses terjadinya penggundulan sangat penting untuk diungkap agar didapat satu kesatuan peristiwa yang untuh agar tidak terjadi kesalahan persepsi, pemaknaan dan tindakan. Menanyakan mengapa orang mengunduli hutan merupakan cara untuk mengungkap proses dibalik pengrusakan hutan. Mungkin orang memang sangat terhimpit ekonomi, mungkin pengusaha rakus yang mencari keuntungan deangan mengorbandan ekosistem atau yang lain. Uraian sekilas di atas hanya sebagai gambaran betapa pentingnya melihat sesuatu dalam satu kesatuahan yang utuh, tidak sepotong-sepotong.
Dalam kontek Pendidikan bidang setudi sebagai ilmu, memberikan pelajaran bagi kita bahwa keutuhan pemahaman akan mengahasilkan sesuatu yang relatif sempurna dan memberikan keyakinan diri akan kebenaran yang kita miliki. Pendidikan bidang studi sebagai ilmu adalah suatu yang nyata tidak terbantahkan lagi. Dilihat dari krterianya sangat jelas nampak obyek kajian, struktur, metode, dan pengebanganya.
Kita sebagai pelaku pendidikan terdepan (guru) semestinya memiliki relatif kesempurnaan dalam pendidikan bidang studi, karena dengan begitu guru akan mempunyai kepercayaan diri sebagai sutradara pembelajaran. Ramuan guru dalam memadukan karakteristik bidang studi, karakteristik subyek didik, dan karakteristik teknologi pembelajaran akan sangat menentukan hasil yang dicapai dalam proses pembelajaran. Sedangkan pemehaman guru akan pendidikan bidang studi akan sangat mempengaruhi kemampuan guru dalam meramu proses pembelajaran.
Ada dua faktor yang sangat dinamis dalam pendidikan bidang studi yaitu karakteristik subyek didik dan karakteristik teknologi pendidikan. Karakteristik subyek didik mengalami perubahan yang sangat berarti bagi dinamika pendidikan bidang studi. Anak Sekolah Dasar lima tahun yang lalu akan sangat berbeda dengan anak sekarang,. Hal ini menuntut adanya rekonstruksi bagi pendidikan bidang studi agar selalu sesuai dengan obyek kajiannya. Begitu juga dengan teknologi pendidikan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberikan dampak terhadap perubahan metode dan strategi bahkan pola pembelajaran. Sekali lagi bidang studi harus mampu memformulaikan ulang strukturnya agar dapat memberikan kebermaknaan yang tinggi.
Akhirnya saya merasa bahwa belajar filsafat menuntun kita menuju hakikat, hikmat, kesempurnaan, kebijakan, kearifan, dan keyakinan. Semoga tuhan senantiasa membimbing kita untuk selalu berfilsafat. Aamiem.

MEMAKAN WAKTU ATAU DIMAKAN WAKTU

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Dalam setia acara ulang tahun biasanya merupakan acaa yang sangat ditunggu-tunggu untuk mengenang baik saat kelahiran- pernikahan, berdirinya suatu lembaga atau yang lain. Hari ini tanggal 17 November 2008 merupakan HUT sekolah kami, SMKN 1 Nngawen yang memasuki tahun ke dua. Dua hari acara di laksanakan olah raga keakraban, potong tumpeng samapai pentas seni.
Ada dua hal yang perlu dijadikan renungan saat HUT, yaitu tentang manajemen waktu dan kinerja. Tentang manajemen waktu Allah SWT telah memberikan peringatan kepada kita dalam surat Al ‘asr yang artinya “demi waktu sesungguhnya semua orang itu rugi, kecuali orang yang beiman dan beramal sholeh serta mengajak kepada yang benar dan menjauhi yang mungkar. “ Pertanyaannya adalah mengapa karena waktu kita rugi? Karena waktu kita ibaratkan seperti hari mau yang buas lagi lapar, dan kita berada di sebuah kawasan harimau tersebut dan menjadi satu kehidupan dengan kita. Hanya ada dua alternative, kita dimakan harimau atau memakan makanan karimau untuk dapat bertahan hidup.
Memakan waktu artinya aktif, kita melakukan suatu aktivitas produktif, kita belajar, bekerja, bersosial, beribadah dan aktifitas yang lain semua itu memakan waktu. Waktu dihabiskan untuk membangun kehidupan. Sedangkan dimakan waktu dalam konteks pasif. Kita berdiam diri, tidak ada aktifitas, bahkan kadang melakukan aktifitas yang merugikan. Bukankah Allah memberikan limmited times voucer kepada kita. Waktu ada awal dan akhir, batas awal dan akhir itulah yang menjadi ruang kita, batas eksistensi kita. Kita ada karena kita berada dalam dimensi ruang. Sedangkan ruang waktu terus berjalan dari awal ke akhir, artinya eksistensi kita dari detik ke detik selalu berkurang. Kalau setiap detik demi detik tidak dimanfaatkan, maka sebetulnya eksistensi kita akan habis dimakan oleh waktu.

KETENANGAN JIWA

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Ketenangan jiwa adalah sumber bagi kebahagiaan. Seseorang individu tidak akan mengalami perasaan yang bahagia sekiranya jiwanya tidak tenang. Hakikat perjalanan hidup yang dilayari, semakin jauh direntasi maka semakin banyak peristiwa yang dihadapi. Banyak persoalan kehidupan yang menyebabkan manusia merasa bimbang, resah dan gundah. Tanggung jawab juga semakin banyak yang perlu dilaksanakan dan menyebabkan pemikiran manusia perlu memikirkan bagaimana ia perlu dilaksanakan selain persoalan-persoalan yang perlu dijawab. Setiap individu secara relatifnya memiliki banyak tanggungjwab berbanding dengan nisbah kemampuannya dari segi tenaga, masa dan material.

Sebagaimana Al-syahid Imam Hassan Al-Banna mengatakan bahawa “Kewajipan itu lebih banyak dari waktu yang ada.”

Secara logiknya, apabila berhadapan dengan banyak persoalan dan tanggungjawab yang perlu diselesaikan tentulah seseorang itu sukar untuk mempunyai jiwa yang tenang. Selagi tanggungjawab tersebut tidak diselesaikan secara lumrahnya agak mustahil untuk dia merasa tenang. Walau bagaimanapun, kita memaklumi bahawa selagi manusia itu tidak berhenti bernafas, selagi itulah masih wujud perkara yang perlu difikirkan dan diselesaikan. Maka di sini timbul persoalan, bagaimanakah seseorang manusia boleh memiliki ketenangan jiwa saudara?

Adakah harta kekayaan, kemasyhuran atau segala nikmat yang wujud di dunia ini boleh menjadi mekanisme yang baik bagi seseorang manusia dapat memiliki ketenangan jiwa? Sebenarnya, semuanya ini memang memungkinkan. Ia berlaku apabila semua kelebihan dan kebaikan ini diurus dengan baik dan dibelanjakan dengan cara yang diredai Allah. Cuma lumrahnya, harta kekayaan yang dimiliki lebih menjadi suatu dugaan kepada seseorang. Apabila seseorang berhadapan dengan sesuatu dugaan tentulah lazimnya hatinya akan keresahan, seperti seseorang yang berada dalam peperangan. Dia mungkin menang di dalam dugaan tersebut, dan barangkali juga dia kecundang.

Ketenangan jiwa yang hakiki sebenarnya adalah anugerah yang diturunkan oleh Allah s.w.t. dan terserap ke dalam hati-hati orang yang beriman. Ketenangan jiwa bagi orang-orang yang beriman menjadikan mereka mempunyai hati yang teguh dan mantap berbanding dengan orang lain yang mengalami kegoncangan perasaan.

Gabungan ketenangan dan keimanan yang terletak di dalam hati seseorang akan mewujudkan keyakinan yang tinggi pada ketika orang lain mengalami perasaan ragu-ragu dan syak wasangka. Gabungan ini juga akan menghasilkan kesabaran dan ketabahan yang jitu pada ketika orang lain mengalami keluh kesah.
Ketenangan seperti inilah yang dimiliki oleh Rasulullah s.a.w. ketika baginda berhijrah bersama sahabat baginda Saydina Abu Bakar Al-Siddiq. Tidak ada perasaan cemas, berduka cita, kebimbangan atau sebagainya. Dan keadaan mereka berdua ini disebut dalam firman Allah s.w.t. yang bermaksud:

“Sesungguhnya Allah telah menolongnya (Muhammad), ketika orang-orang kafir mengusirnya, mereka hanya berdua sahaja ketika mereka berada di dalam gua. Pada kala itu dia berkata kepada temannya: Janganlah engkau bersedih hati, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Maka di sini timbul persoalan, “mengapakah orang beriman lebih berhak merasakan ketenangan jiwa dan ketenteraman hati?” sedangkan secara logiknya manusia boleh merasakan kedamaian jiwa apabila dia bijak menguruskan pembahagian tugas dengan masa yang ada padanya, tidak kira sama ada dia seorang Islam ataupun bukan. Mengapa orang yang tidak beriman tidak boleh memiliki ketenangan atau kedamaian jiwa yang hakiki?

Orang beriman lebih mampu memiliki kedamaian di hatinya atau dianugerahi perasaan tersebut kerana yang paling utama dia telah menerima fitrah kemanusiaan yang Allah tanamkan dalam dirinya dengan ikhlas. Dia menerima dengan reda perjalanan hidup yang sesuai dengan fitrahnya sebagai seorang manusia. Fitrah manusia merasa lapar dan kenyang, dahaga dan segar, sakit dan sihat, kecewa dan gembira dan sebagainya. Dia akur dan ikhlas menerima keadaan yang yang dialami. Umpamanya, apabila dia merasa dahaga dia tidak merungut dengan rasa tidak selesa tekaknya. Atau apabila dia merasa lapar, dia tidak akan bersungut dengan bunyi keroncong perutnya. Dia menyedari bahawa itulah fitrah seorang manusia yang dahaga atau lapar.

Sebaliknya, bagi manusia yang menolak fitrah ini, dia hanya mahu menerima keadaan yang menyenangkan dirinya dan enggan untuk menerima perasaan yang tidak selesa bagi dirinya. Apabila seseorang manusia menerima fitrah ini, dia sebenarnya mengenali dirinya, asal usul kewujudannya dengan rasa insaf dan mengetahui tujuan hidupnya. Selanjutnya, dia mengetahui tugas dan kewajipannya terhadap Pencipta yang menjadikannya. Semuanya ini memberi maksud bahawa dia mengenali Allah s.w.t sebagai Penciptanya.

Maka, kebahagiaan dan ketenangan yang hakiki tidak akan berlaku kepada manusia yang tidak mengenal dirinya dan tidak mengenal Tuhannya. Allah swt telah berfirman yang seiringan dengan hal ini yang firman itu bermaksud;

“Orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah melupakan mereka terhadap dirinya sendiri.”
Berhubung dengan keadaan mengenali atau tidak mengenali seorang hamba terhadap Tuhannya, hakikatnya di dalam setiap diri manusia telah wujud fitrah kemanusiaan yang mengiktiraf kewujudan Tuhan sebagai tempat yang patut disembah dan dirujuk. walaupun pada zahirnya dia dilihat sebagai tidak mengenali Tuhannya sebagaimana firman Allah swt yang bermaksud;

“Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, maka lenyaplah dari ingatanmu apa yang kamu puja selain dari Allah.”
Di sebalik keadaan tersebut, orang yang beriman lebih bebas dari keraguan yang menyiksakan hati dan dirinya. Dia mempunyai keyakinan yang teguh terhadap pengiktirafannya terhadap Allah s.w.t. sebagai Tuhan yang wajib disembah. Dia meyakini bahawa Allah s.w.t telah mencipta dan membentuk manusia dengan rupa yang baik dan sempurna, mulia dan memiliki ciri-ciri yang istimewa. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia ini telah melayakkan manusia untuk menjadi khalifah yang bertanggungjawab untuk mengurus, mentadbir, memimpin dan memakmurkan bumi ini. Mukmin yang beriman menerima watikah ini berserta dengan hukum yang diturunkan kepadanya. Maka, dia akan melaksanakan amanah dan tanggungjawab ini dengan penuh keimanan, dengan pegangan yang ampuh dalam hidup yang penuh cubaan dan kecurigaan ini.

Lanjutan dari perkara ini, orang yang beriman mengetahui antara kebaikan dan kejahatan; antara keadilan dan kezaliman; antara yang hak dengan yang batil; antara yang mengelirukan dengan yang nyata. Suka dan duka pada orang beriman adalah suatu fitrah yang datang silih berganti dan bukan sebagai noktah dalam penghidupan. Dia akan menganggapnya hanya sebagai suatu titik permulaan atau sekadar perhentian sementara.

Orang yang beriman mendatangi hidup pada hari ini adalah suatu kerjaya, untuk mencapai keselesaan dan kebahagiaan dalam kehidupan mendatang, yang lebih meyakinkan dan kekal. Dia amat meyakini kehidupan dunia akan datang yang setiap orang akan menerima balasan usahanya, dan tidak disisihkan walau barang secebis.

Bagi orang yang beriman juga, dia meyakini bahawa penciptaan dirinya bukanlah suatu perkara yang sia-sia. Penciptaan setiap manusia itu sendiri merupakan suatu nikmat yang tiada terperi dan kewajipannya pula adalah untuk menegakkan hukum dan keadilan di tengah umat manusia.

Namun demikian, bagi mereka yang tidak beriman, sentiasa diselimuti kegelapan batin, kehairanan dan berada dalam keadaan yang ragu. Persepsi mereka terhadap kehidupan sangat kabur, mencemaskan dan menakutkan. Keadaan ini akan mengakibatkan kegelisahan yang berulang-ulang dan semakin menebal. Pendirian golongan ini juga tidak tetap, tidak tegas dan tidak meyakinkan.

Keadaan mereka yang tidak meyakinkan, tidak akan berubah selagi mereka tidak mengusahakan diri mereka untuk mencapai keimanan. Allah berfirman yang antaranya bermaksud;

“Dan sesiapa yang membelakang (menyangkal) dari mengingati Aku (Allah), sudah tentu akan memperoleh kehidupan yang sukar dan sempit. Kami akan mengumpulkan mereka nanti pada hari Kiamat menjadi orang buta. Dia berkata: Wahai Tuhanku! Mengapa aku Engkau kumpulkan menjadi orang yang buta, sedangkan ketika aku di dunia aku seorang yang mampu melihat? Maka Allah pun menjawab: Begitulah! Keterangan-keterangan Kami telah datang kepadamu, tetapi engkau melupakan (engkau tidak mempedulikan). Dan begitulah pada hari ini, engkau Kami tidak endahkan pula.”
Pendirian yang meyakinkan dan tegas sebagaimana pendirian tegas orang-orang yang beriman hanya lahir apabila manusia menjadikan al-Qur’an sebagai sumber kehidupan dan sunnah Rasulullah sebagai mekanismenya. Sebagaimana maksud firman Allah;

“Sesungguhnya telah datang kepada kamu cahaya dan Kitab yang terang. Dengan itu, Allah memimpin sesiapa yang mehu mengikut keredaan-Nya ke jalan kedamaian, dan mereka dikeluarkannya dengan izin-Nya dari kegelapan kepada cahaya yang terang, dan mereka dipimpin-Nya ke jalan yang lurus.”
Mereka yang jelas dengan jalan yang bakal ditempuhi tidak akan merasa gentar dengan apa yang bakal mereka lalui. Kebimbangan tidak wujud di dalam hati mereka disebabkan mereka hanya memohon keredaan daripada Allah s.w.t. Sebagaimana pengulangan yang disebut oleh orang beriman di dalam solat yang didirikan yang bermaksud, “Pimpinlah kami ke jalan yang lurus” Jalan yang disebutkan di dalam firman Allah sebagai;

“Sesungguhnya, inilah jalanku yang lurus, maka turutlah jalan itu. Dan janganlah kamu turut jalan-jalan yang lain, kerana nanti kamu akan terpisah dari jalan Allah. Itulah yang diperinthakan Tuhan kepada kamu, supaya kamu bertakwa.”

Selain itu juga orang yang beriman yang dianugerahi ketenangan jiwa adalah disebabkan dia amat mengetahui dan meyakini bahawa dia tidak sekali-kali atau barang sedetik dalam keadaan terpencil dan terasing. Dia merasa bahawa Tuhan Maha Pencipta berada amat hampir dengan diri dan hatinya. Walau di mana dia berada, dia akan sentiasa merasakan bahawa Tuhan berada di sampingnya, dia amat meyakini dengan sebuah firman Allah yang berbunyi:
“Timur dan Barat itu kepunyaan Allah. Sebab itulah, ke mana sahaja kamu menghadapkan mukamu, maka di situlah wajah Allah. Sesungguhnya, Allah itu luas kurnianya dan Maha Mengetahui.”

Dan Allah swt juga turut berfirman;
“Dia (Allah) ada bersama kamu di mana sahaja kamu berada, dan Allah itu melihat dengan terang apa yang kamu lakukan.”
Dia akan melahirkan ikatan perasaan tersebut dengan memuji, bertasbih dan tunduk kepada Tuhannya tanpa putus sebagai tanda kecintaannya terhadap Tuhannya. Sebagaimana pujian dan tasbih yang dilakukan oleh segala makhluk yang berada di sekitarnya sepertimana firman Allah yang bermaksud;
“Langit yang tujuh, bumi dan apa yang ada di dalamnya, bertasbih memuji Tuhan. Segala sesuatu, semuanya bertasbih memuji Tuhan, tetapi kamu tiada mengerti tasbih (pujian) mereka. Sesungguhnya Tuhan itu Penyantun dan Pengampun.”
Dan ciri-ciri istimewa yang pasti dimiliki oleh mereka yang beriman, tiada konflik dalam diri mereka antara persimpangan istilah “jikalau” dan “seandainya”.

Pengeluhan dan kekecewaan adalah punca utama mengapa manusia lazimnya terhalang jauh dari memiliki ketenangan jiwa. Manusia yang senantiasa memikirkan perkara yang telah berlaku tanpa memperbaiki dirinya pada hari ini dan untuk persediaan mendatang, sebenarnya hanya menzalimi dirinya sendiri. Dia seolah-olahnya hanya meletakkan beban demi beban di pundaknya disebabkan kekecewaan demi kekecewaan yang berlaku dalam perjalanan hidupnya. Dia hanya akan menyatakan, “kalaulah aku tidak melakukannya, sudah pasti aku tidak akan melalui nasib yang sebegini…” ataupun “jikalau aku melakukan begitu dan begini, sudah pasti aku akan menerima keuntungan begitu dan begini…”
Ini sebenarnya sebahagian sikap orang-orang munafik yang diterangkan di dalam firman Allah;

“Orang yang munafik yang mengatakan kepada rakan-rakannya, dan mereka sendiri tinggal di belakang: Kalau sekiranya mereka mengikut kita, tentulah mereka tidak akan mati terbunuh. Katakan: Cubalah hindarkan kematian itu dari dirimu kalau kamu memang orang-orang yang benar.”
Demikianlah jawapan bagi suatu persoalan, bagaimanakah ingin memiliki ketenangan jiwa. Ketenangan jiwa hanya dapat diperolehi dengan hanya satu cara, yakni beriman dengan Allah. Dan keimanan itu disertai dengan akal budi yang diasaskan kepada petunjuk Allah swt. Dengan rasional seorang manusia yang bersumberkan tauhid kepada Allah. Dengan kekuatan emosi yang berpegang teguh dengan al-Quran dan Sunnah Rasulullah. Memiliki pendirian yang tegas sebagai mukmin sejati.

Kebenaran “Hakiki ku”

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Berpikir memang indah dan nimat, tetapi berpikir bukanlah untuk keindahan dan kenikmatan itu sendiri. Dalam keindahan dan kenikmatan itulah saya rasakan seberapa besar makna kata demi kata, ide demi ide, dan bahkan perbedaan demi perbedaan. Semua itu tidaklah ada yang sia-sia sebagai pembangun untuk mendapatkan kebenaran. Yang sejalan sebagai lentera kebenaran, semakin banyak maka akan semakin teranglah kebenaran itu tampak, yang berseberangan sebagai dinding pembatas sehingga tidaklah akan tersesat “kebenaran hakiki kita”.
Kesadaran akan apakah makna diri saya terhadap saya, makna diri saya terhadap lingkungan, makna diri saya terhadap masyarakat, dan bahkan makna diri saya terhadap Tuhan, akan membawa saya untuk salalu berusaha agar adanya saya tidaklah sia-sia apalagi sebagai petaka. Kecederungan kita untuk selalu bermakna pada salah satu saja, akan mewujudkan “extremism” baik “egoism”, ”extremist humanism” maupun “extremist religionism”. Sedangkan kecenderugan kita untuk selalu bermakna atas semuanya akan mewujudkan “insanul khamil” manusia yang paripurna, yaitu mausia yang ”rahmatan lil ‘alamin”.
Untuk dapat bermakna itulah, saya harus menemukan kebenaran atas diri saya. Dalam “kebenaran ku”, haruslah saya temukan “kebenaran Tuhan ku”. Kebenaran Tuhan ku adalah kebenaran atas alam dan wahyu Tuhan ku. Bertemunya simpul pemahaman saya, realitas alam dan wahyu Tuhan ku, maka itulah “kebenaran hakiki ku”.
Jalan ditemukannya kebenaran adalah terjawabnya atas pertanyaan: Apakah saya telah berada pada dimensi ruang yang benar?, apakah saya telah berada pada dimensi waktu yang benar?, apakah saya telah berada pada dimensi religi yang benar?, apakah saya telah berada pada dimensi spiritual yang benar?, dan apakah saya telah berada pada cara yang benar?.
Untuk dapat menjawab berbagai pertanyaan diatas jalan menuju kebenaran tersebut, maka dibutuhkan adanya ruang dan media yang memadahi. Pikiran positif, tidak buruk sangka, optimis, sabar, jujur, dan tulus adalah ruang yang dibutuhkan untuk ditemukanya ”kebenaran hakiki ku”, sedangkan kritis, logis, kreatif, dan inovatif adalah media untuk ditemukanya ”kebenaran hakiki ku”.

JADILAH PEMIMPIN YANG DIIKUTI BUKAN YANG DITAATI

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Pagi itu saya datang agak siang karena memang tidak ada jadwal mengajar. Menandatangani presensi lantas duduk duduk sambil membaca koran, belum sampai selesai satu topik, ada sebuah sepeda motor masuk, rupanya kepala sekolah yang datang. Tidak lama kemudian ada suara batu dilempar dan teriakan kepala sekolah menyuruh anak-anak yang masih duduk diluar menunggu guru yang belum datang untuk masuk kelas. Tidak semua anak lantas masuk kelas bahkan ada yang lari pergi entah kemana.
Sekolah tempat saya mengajar memang bukan sekolah yang tergolong baik. Adekan seperti ini terjadi tidak hanya satu dua kali tetapi setiap hari hampir terjadi. Apa yang dilakukan kepala sekolah adalah tindakan seorang pemimpin yang ingin ditaati, dengan kekuasaannya menekan yang dipimpin untuk mau melakukan apa yang dia diinginkan. Cara memimpin seperti ini tentu bukan cara memimpin yang baik, karena tidak menumbuhkan kerelaan untuk melakukan tetapi menimbulkan keterpaksaan untuk melakukan.
Dalam pendidikan kerelaan adalah modal utama untuk belajar. Tanpa kerelaan hampir tidak mungkin siswa melaksanakan pembelajaran. Seseorang melakukan berbuatan dengan rela apabila mereka sadar bahwa yang dilakukan bermakna. Pada Pendidikan yang tidak dapat menumbuhkan kesadaran hanya akan membentuk mesin-mesin manusia.
Untuk menumbuhkan kesadaran inilah yang harus diupayakan melalui sistem pendidikan. Sekolah harus mau berkomunikasi secara intensif dengan para siswa. Siswa yang tidak segera masuk mungkin masalahnya bukan pada tidak masuknya siswa, tetapi pada apa yang menyebabkan siswa tidak masuk. Mungkin karena gurunya, guru tidak beres, mungkin karena sistem menajeman dan kepemimpinan sekolah. Jadi siswa tidak masuk tidak bisa diatasi dengan melempari batu.
Ada ranah lain yang perlu disadari, selain menumbuhkan kesadaran, lingkungan sangat menentukan. Bagaimana seorang siswa mau tepat waktu kalau gurunya tidak tepat waktu, bagaimana gurunya mau tepat waktu kalau kepala sekolahnya tidak tepat waktu. Inilah yang disebut keteladanan, ”Ing ngarsa sung tuladha”. Seorang pemimpin mestinya tidak ingin di taati tapi mestinya diikuti. Diikuti karena menyatunya kata dan perbuatan, diikuti karena baiknya budi, diikuti karena keteladanyanya.

INI SEPATU PAK BUKAN SANDAL

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Disebuah SMK Negeri yang berada dipinggiran kabupaten Gunungkidul dimana saya mengabdikan diri semenjak sekolah itu berdiri, ada kejadian yang sangat mengiris nurani saya. Saat itu ada seorang siswa yang melintas didepan saya, sekilas terlihat tumitnya dari belakang. Seperti biasa saya selalu tegur siswa yang tidak memakai sepatu dengan benar. Siswa tersebut merasa kebingungan mendengar teguran saya. Kemudian saya hampiri, dan saya suruh memakai sepatunya dengan benar, tetapi siswa tersebut semakin kebingungan, kemudian saya mencoba untuk memakaikan sepatunya, namun alangkah terkejutnya melihat sepatunya yang sangat butut, bahkan lebih layak disebut sendal karena sana-sini jebol, jari kakinya kelihatan, dan tidak mungkin lagi dapat dipakai dengan benar. Pelan-pelan saya Tanya “mas ini sepatu apa sandal?”, dengan nada keras dia menjawab “ini sepatu pak bukan sandal”. Sebentar saya terdiam kemudian bertanya lagi, “apa tidak ada sepatu yang lain mas?” dengan lirih dia menjawab, “tidak pak”. Kemudian saya katakana “ya sudah, sana ikut pelajaran, besuk pagi ketumu saya ya! “.
Sekelumit cerita tersebut mungkin tidak hanya terjadi di SMK kami, disekolah lain banyak kejadian dengan versi dan permasalahan yang berbeda, tetapi inti masalahnya sama yaitu masih banyak siswa yang mengalami hambatan pendidikan karena faktor ekonomi. Ada diantara meraka yang dengan memaksakan diri untuk tegar dan tangguh tetap sekolah seperti siswa kami tersebut. Namun tidak sedikit dari mereka yang menyerah tidak mampu lagi melanjutkan sekolah.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat seperti ini, tentunya bukanlah hal yang boleh dibiarkan namun untuk mengatasi juga bukan hal yang mudah. Selama ini pemerintah menjadi tumpuan harapan agar mampu memfasilitasi mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pemerintah memang sudah berusaha untuk mengatasi hal tersebut dengan mengalokasikan dana BOS, BOMM, dan berbagai beasiswa yang diperuntukan bai masyarakat miskin, namun tetap saja masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan pendidikan, karena sekedar untuk membeli buku, pakaian atau sepatu mereka tidak mampu.
Pemikiran kritis yang perlu dipertimbangkan untuk mencarikan solusi atas permasalahan tersebut adalah perubahan paradigma tentang pengelolaan pendidikan, dari paradigma efisiensi menjadi paradigma efektivitas. Ada perbedaan yang cukup mendasar dari kedua paradigma tersebut. Paradigma efisiensi muncul dari prinsip ekonomi dimana untuk mencapai tujuan dengan biaya sekecil-kecilnya. Efisiensi menganggap tujuan-tujuan yang telah ditentukan adalah sebuah kepastian atau standar, sehingga keberhasilnya dapat diukur dari seberapa besar penghematan yang dapat dilakukan. Sedangkan efektifitas, tujuan bersifat dinamis sesuai peluang dan potensi yang ada. Semakin besar peluang dan potensi akan semakin optimal dalam pencapaian tujuan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa efisiensi adalah melaksanakan proses dengan benar, sedangkan efektifitas adalah mencapai tujuan yang benar.
Paradigma efisiensi memang sangat tepat untuk mengelola barang, tetapi kurang tepat untuk mengelola orang. Padahal sekolah pada prinsipnya adalah mengelola orang yang masing-masing mempunyai motivasi dan tujuan pribadi, yang hampir tidak mungkin untuk membuat kepastian dalam mencapai tujuan, proses dan biaya boleh kita standarkan tetapi hasil tetap saja menjadi hal yang bersifat “mungkin”. Paradigma efisiensi dalam dunia pendidikan akan menimbulkan penyamarataan, dalam proses dan perlakuan, termasuk tidak membedakan dalam hal kontribusi ekonomi ditinjau dari tingkat sosial ekonomi masyarakat. Bahkan kadang kala regulasi memaksa sekolah untuk tidak berdaya melindungi yang lemah, karena “larangan” untuk menggali dana masyarakat, walaupun sebenarnya ada diantara mereka yang mampu.
Paradigma efisiensi menggiring terjadinya hubungan menang-kalah, sedangkan paradigma efektifitas menuju kondisi menang-menang. Kondisi menang-menang menuntut adanya pemahaman bersama tentang visi, misi, yang akan diraih dan nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupan bersama. Inilah yang akan menumbuhkan semangat kebersamaan dan kepedulian. Keberhasilan bukan diukur dari keberhasilan individual tetapi diukur dari keberhasilan kolektif. Yang berlebih akan rela memberi, yang kurang akan nyaman menerima, yang kuat melindungi yang ringkih. Dengan semangat ini sekolah akan berdaya melindungi mereka yang secara sosial ekonomi lemah untuk tetap mendapatkan pendidikan yang layak. Semoga………

GURU BUKAN SEORANG TERORIS

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Sekolah adalah lembaga pemberdayaan manusia. Dengan sekolah mestinya orang akan dapat lebih berdaya, dari yang belum tahu menjadi tahu, dari belum terampil menjadi terampil, dari tidak memahami diri sendiri menjadi paham, dari tidak tertib pemnaji tertib, dari “Ndugal” Menjadi “ndalan”, dll. Pada intinya adalah dari orang belum berdaya dalam mengoptimalkan kemampuanya menjadi berdaya.
Untuk berdaya lembaga pendidikan harus mampu meletakkan pembelajaranya dalam kerangka dunia siswa, (bukan dunia guru). Artinya apapun kondisi siswa, apapun permasalahan siswa harus dikembalikan pada akar masalah siswa. Jangan sampai antara guru dan siswa mempunyai dunia yang berbeda dalam proses pendidikan. Berarti guru dituntut mampu berperan sebagai pendamping yang siap membantu siswa dalam membentuk keberdayaanya. Guru tidak sebagai hakim yang selalu mengadili dan memfonis benar salah terhadap apa yang dilakukan siswa.
Dengan demikian guru semestinya berorientasi utama pada proses tidak sekedar hasil. Inti dari pendekatan proses adalah adanya peningkatan berlanjut tahap demi tahap. Kemampuan siswa jelas tidak sama antara satu dengan yang lain, hampir tidak mungkin dalam waktu yang sama dituntut hasil yang sama. Dari anak yang tadinya sangat pemalas tidak mungkin menjadi sangat rajin serajin anak yang sudah rajin, dari yang sangat tidak tertib tidak mungkin menjadi sangat tertib setertib siswa yang memang sudah tertib, dari anak yang sangat lemah dalam akademis tidak mungkin menjadi siswa yang sangat pandai sepandai anak yang memang sudah pandai. Pendekatan proses akan menumbuhkan siswa menjadi lebih merasa berdaya tapak demi tapak, tahap demi tahap.
Ketika orientasi utama guru pada hasil saja, bagi sebagaian siswa yang tidak dapat meraih hasil standar akan menimbulkan kekawatiran, kegelisahan, keresahan dan kecemasan pada diri siswa, apalagi ditambah adanya ancaman bagi siswa yang tidak dapat mencapai standar. Tindakan baik guru untuk mendorong siswa berhasil sering kali tidak disadari menimbulkan ancaman bagi siswa.
Tindakan acaman muncul dalam beberapa bentuk dan intensitasnya. Baik ketika siswa bolos, terlambat, tidak rapi, tidak mendapatkan nilai yang baik, tidak menjaga kebersihan, tidak sopan. Yang ada pada tatanan nilai hanya awas kalau terlambat, awas kalau bolos, awas kalau nilainya jelak, awas kalau tidak rapi, awas kalau kotor, awas kalau tidak rajin, dan awas-awas yang lain yang membuat siswa tidak menyadari mengapa harus begitu dan mengapa harus begini.
Proses pendidikan akan lebih memberdayakan apabila dilakukan dengan proses penyadaran diri yang akhirnya akan menumbuhkan pemberdayaan diri ”self empowering”. Dengan demikian tidak menimbulkan ancaman yang menjadikan teror bagi siswa, karena guru memang bukan teroris.
Ada suatu cerita nyata yang mungkin dapat dijadikan renungan. Kala itu saya duduk di bangku SMP, ketika ulangan, ada teman putri di belakang saya yang ngopol sampai kemana-mana. Karuan saja dia sangat malu dan tidak mau lagi sekolah disitu. Saat usut punya usut dia ketakutan karena guru yang mengajar sangat ketat sehingga seorang siswa sampai takut hanya sekedar untuk ijin buang air kecil.

GURU PEMIMPIN INSTRUKSIONAL

Oleh Basuki, S.Pd
Kepala Sekolah SMK N 1 Ngawen

Betapa dipundak seorang guru terpikul beban yang begitu berat tapi mulia. Bagaikan membagun rumah, guru arsiteknya, wujud rumah yang akan dihuni oleh bangsa ini 20 tahun mendatang sangat tergantung dari apa yang guru gambarkan pada saat ini. Bukan saja gambaran manusia yang cerdas dan terampil, tepati jauh lebih indah apabila didasari oleh kesholehan yang akan membentuk karakter anak-anak didik kita, sehingga mempunyai jati diri untuk mendasari bangsa ini tidak terobang-ambing oleh dahsyatnya gelombang percaturan global.
Guru adalah seorang pemimpin instruksional, hal yang mesti dimiliki adalah keberanian untuk memilih, dan membuat jalan menuju pilihan. Banyak pemimpin yang mempunyai pilihan sama, tetapi tidak pernah ada satu pun seorang pemimpin yang menempuh jalan yang sama. Mereka asyik dengan caranya sendiri, tantangannya sendiri, masalahnya sediri, resikonya sendiri. Itulah yang membentuk jalan perbedaan menuju pilihanya. Semua bisa berhasil dan menjadi pemimpin yang hebat. Bukan jalan yang mereka tempuh yang membuat hebat, tetapi komitmen, kerja keras, ketulusan, dan keberhasilan pemimpin menemukan simpul-simpul pemicu keberhasilan. Inilah yang sama untuk semua pemimpin.
Guru harus tidak berhenti untuk mendapatkan suasana baru, cara baru, strategi baru, harapan baru dalam pembelajaran. Inilah yang akan memicu “lopotan keberhasilan”. Dalam suasana kesuksesan kita tidak boleh lengah, karena kesuksesan pada suatu titik tertentu akan terjadi penurunan. Terjadinya penurunan ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti karena jenuh kegiatan yang dilakukan berulang dengan cara yang sama, suasana sama atau tidak ada kejelasan hasil yang dicapai. Untuk melakukan lompatan keperhasilan diperlukan kesadaran akan kekurangan untuk menjadi tangga keberhasilan. Tetapi begitu sulitnya mencari noda hitam saat bercermin, bahkan sering kali justru terjebak oleh keangkuhan. Biarkan orang lain yang memotret diri kita dan kita ucapkan terima kasih telah membantu menemukan tangga-tangga keberhasilan baru.
Ada sisi lain dari seorang pemimpin instruksional dibanding pemimpin yang lain. pemimpin instruksional haruslah menjadi seorang pendidik. Dalam meraih pilihanya, seorang pemimpin instruksional selain menempuh jalan yang telah diyakinannya dapat menghantarkan menuju keberhasilan namun juga harus membangun pencerahan. Kesadaran, kerelaan, dan tanggung jawab dibangun bersama meraih pilihan untuk mencapai pencerahan. Inilah pemimpin sesungguhnya karena mampu membuat semua berdaya dan semua merasa menjadi pemimpin.

April 5, 2011

PPDB 2011

Sekolah di SMK N 1 Ngawen?

MAU???


Daftar yuk,….?

ppdb smk n 1 ngawen 2011